Menilik Kinerja BUMN Asuransi yang Mau Dipangkas Danantara jadi Hanya 3 Perusahaan

October 17, 2025
IARFC Indonesia

Beberapa waktu lalu, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menuturkan saat ini ada 18 perusahaan asuransi dalam keluarga besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Akan tetapi, perusahaan ini dalam skala bisnis yang relatif kecil dan membuat perusahaan tidak kompetitif bersaing dengan kawasan.

"Jasa Raharja punya

Managing Director Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar juga menyebut bahwa sejumlah asuransi di lingkungan BUMN tidak terlalu dalam keadaan baik.

"Kalau mau dibilangin enggak enaknya,

Salah satu proses pertama yang Danantara lakukan adalah mengelompokkan semua perusahaan asuransi dalam satu klaster. Dia pun menyebut saat ini ada yang di bawah IFG, tetapi tidak semuanya.

Baca Juga

“Kita akan

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun

“Jadi harapannya dengan dikonsolidasi itu kita punya perusahaan yang besar, bisa nampung kapasitas besar gitu dan juga pengelolaan risikonya jadi bagus,” ujar Iwan di tempat yang sama.

Berikut ulasan kinerja sejumlah perusahaan asuransi BUMN:

1. IFG Life

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 30 September 2025, IFG Life membukukan pendapatan premi sebesar Rp5,16 triliun, tumbuh 7% dari periode yang sama pada tahun lalu atau secara (

Sementara itu, klaim dan manfaat yang dibayar IFG Life mencapai Rp8,67 triliun. Angka tersebut meningkat 7% dari Rp8,10 triliun pada Agustus 2024 kemarin.

Adapun, pada September 2025 ini IFG Life mencatat rugi setelah pajak sebesar Rp119,28 miliar. Posisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama pada tahun lalu yakni berhasil membukukan laba setelah pajak sebesar Rp153,44 miliar.

Lebih jauh, rasio pencapaian pemenuhan tingkat solvabilitas atau RBC (Risk Based Capital) IFG Life terjaga di level 214,97%.

2. Asuransi Jasindo

PT Asuransi Jasa Indonesia atau

Menilik laporan keuangan Asuransi Jasindo per 30 September 2025, jumlah pendapatan premi yang didapatkan sebesar Rp2,99 triliun tumbuh 11% (YoY) dari Rp2,69 triliun.

Sementara itu, klaim bruto Asuransi Jasindo turun sebesar 23% atau menjadi Rp1,23 triliun dari Rp1,59 triliun pada September 2024 lalu.

Asuransi Jasindo per September 2025 berhasil membukukan laba senilai Rp127,29 miliar. Angka tersebut meningkat 289% (YoY). Adapun, RBC dalam level terjaga yakni sebesar 173,49%.

3. Askrindo

PT Asuransi Kredit Indonesia atau

Askrindo memiliki misi utama memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Askrindo menggarap bisnis konvensional, sedangkan lini usaha syariah dijalankan oleh Askrindo Syariah.

Hingga April 2025, Askrindo membukukan laba Rp196 miliar dengan hasil underwriting Rp423 miliar.

4. Jasa Raharja

Perseroan berdiri pada 1960, lalu bergabung ke dalam holding BUMN asuransi dan penjaminan, yakni IFG.

Pada September 2025, Jasa Raharja mencatatkan laba Rp1,20 triliun, naik dari Rp871,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan premi menjadi Rp4,07 triliun menjadi salah satu pendorong pertumbuhan laba itu.

Jasa Raharja mencatatkan aset Rp17,08 triliun per September 2025, dengan rasio solvabilitas 828,12%.

BUMN Asuransi, Reasuransi, dan Penjaminan Lainnya

Asuransi BUMN lainnya adalah PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau

Asabri tercatat belum mempublikasikan laporan keuangan terbarunya di situs resmi perusahaan. Terdapat tautan laporan 2025 dan laporan 2024, tetapi ketika Bisnis membukanya, angka-angka kinerjanya tidak muncul.

Berdasarkan arsip pemberitaan beberapa waktu lalu, Asabri membukukan ekuitas negatif Rp1,06 triliun pada 2023.

Selain itu, ada juga

Lalu, terdapat perusahaan BUMN penjaminan yakni PT Jaminan Kredit Indonesia atau

Berdasarkan laporan konsolidasi hingga September 2025, Jamkrindo mencatatkan volume penjaminan Rp186,76 triliun atau 53,59% dari target RKAP 2025, terdiri atas penjaminan KUR sebesar Rp116,54 triliun dan penjaminan non-KUR sebesar Rp70,21 triliun.

Dari sisi neraca, total aset PT Jamkrindo mencapai Rp31,87 triliun, dengan liabilitas Rp18,44 triliun dan ekuitas Rp13,43 triliun. Sementara itu, pendapatan utama yang berasal dari IJP bruto tercatat sebesar Rp5,59 triliun atau 65,53% dari RKAP 2025, diikuti pendapatan investasi Rp1,19 triliun (79,82%), pendapatan subrogasi bersih Rp1,26 triliun (79,90%), dan pendapatan lain-lain Rp50,67 miliar (354,78%).

Beban klaim tercatat Rp3,79 triliun (49,36% dari RKAP 2025), sedangkan beban usaha mencapai Rp1,46 triliun (79,75%). Laba bersih perseroan mencapai Rp646,06 miliar, atau 114,98% dari RKAP 2025. Sebagai catatan, sejak didirikan pada 1970, Jamkrindo selalu mencatatkan laba dan belum pernah satu kalipun dalam periode satu tahun buku mencatatkan kerugian dan mampu tumbuh secara kinerja positif berkelanjutan.

Tak hanya itu, terdapat juga perusahaan asuransi yang merupakan anak usaha dari perusahaan BUMN tersendiri. Seperti contoh, PT Asuransi BRI Life yang merupakan perusahaan asuransi jiwa nasional anak dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Per Agustus 2025, BRI Life mencatatkan laba sebesar Rp539 miliar, tumbuh 33% (YoY).

Kemudian, ada juga PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) yang merupakan perusahaan asuransi jiwa patungan antara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan National Mutual International Pty. Limited (AXA Group). Adapun, per September 2025 labanya senilai Rp870,96 miliar.

Berikut perusahaan asuransi dan reasuransi lainnya di ekosistem BUMN:

Sumber : Bisnis.com

Hubungi Kami

Pesan alert di sini