Harap Tunggu ...

Rantai Pasok Global Kian Memburuk, Harga Barang Bakal Makin Mahal

October 13, 2021 | Zenal Muttaqin

Jakarta - Kondisi rantai pasok global saat ini sedang berada di bawah tekanan ekstrem. Bila kondisi rantai pasok kian memburuk, hal ini dapat membuat harga-harga naik sehingga memperlambat pemulihan ekonomi global.

Melansir CNN, Rabu (13/10/2021), analis dari Moody's Analytics memperingatkan bahwa gangguan kondisi rantai pasok global ini bisa jadi lebih buruk sebelum adanya pemulihan ekonomi.

"Ketika pemulihan ekonomi global terus meningkat, yang semakin jelas adalah bagaimana hal itu akan terhalang oleh gangguan rantai pasok yang sekarang muncul di setiap sudut," tulis Moody's dalam sebuah laporan. 

Selain itu, saat ini terdapat banyak faktor yang kian memperburuk kondisi rantai pasok global seperti tidak adanya izin vaksin global, aturan pembatasan yang berbeda-beda di tiap negara, hingga tingginya permintaan (demand) masyarakat.

"Pengendalian perbatasan dan pembatasan mobilitas, tidak tersedianya izin vaksin global, dan adanya peningkatan permintaan dari masyarakat yang terjebak di rumah telah menghantam dunia, di mana produksi global akan terhambat karena pengiriman tidak dilakukan tepat waktu, biaya dan harga akan naik dan akibatnya, pertumbuhan PDB di seluruh dunia tidak akan sekuat itu," tulis Moody's.

Sayangnya, kondisi ini nampaknya masih akan terus berlanjut. Moody's memperingatkan kalau ke depannya akan ada 'awan gelap' karena beberapa faktor yang membuat pemulihan kendala pasokan menjadi sangat menantang.

Salah satunya adalah karena setiap negara memiliki caranya masing-masing dalam memerangi Covid-19. Sebagai contoh, China menargetkan nol kasus sementara Amerika Serikat lebih bersedia hidup dengan Covid-19 sebagai penyakit endemik.

Hal ini dapat menjadi faktor penting sebab dengan adanya perbedaan cara atau pandangan dalam menghadapi covid, maka setiap pemerintah dapat membuat aturan dan peraturan yang berbeda-beda terkait masalah pembatasan.

"Ini menghadirkan tantangan serius untuk menyelaraskan aturan dan peraturan di mana pekerja transportasi masuk dan keluar dari pelabuhan dan hub di seluruh dunia," tulis para analis.

Simak juga Video: Sri Mulyani: Kondisi Ekonomi Dunia 2020 Terburuk dalam 150 Tahun. 

Sumber:Detikfinance

IARFC Indonesia
Hubungi Kami