Harap Tunggu ...

Krisis Energi Makin Parah, Harga Minyak Diproyeksi Meroket

October 13, 2021 | Zenal Muttaqin

Jakarta - Untuk pertama kalinya sejak akhir 2014, harga minyak AS kembali di atas US$ 80 atau setara dengan Rp 1,14 juta per barel (kurs Rp 14.300/dolar AS). Kondisi ini merupakan kabar buruk bagi pemulihan ekonomi terutama saat musim dingin mulai mendekat di sejumlah negara.

Melansir CNN, Rabu (13/10/2021), analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan kalau kondisi ini bisa jadi kian memburuk. Sebab saat ini permintaan akan minyak mentah akan meningkat seiring dengan adanya pemulihan ekonomi global.

Sebagai contoh, permintaan minyak mentah akan semakin meningkat seiring dengan adanya peningkatan perjalanan global. Sebab dengan adanya peningkatan perjalanan global ini, maka permintaan akan minyak mentah sebagai bahan bakar transportasi seperti pesawat maupun kapal laut akan kembali meningkat.

Pada saat yang sama, lonjakan harga gas alam dan batu bara mendorong beberapa pemasok energi beralih ke minyak untuk pembangkit listrik. Tentu hal ini juga dapat meningkatkan permintaan (demand) akan minyak mentah.

"Di sebagian besar Asia dan Eropa, (sekarang) lebih murah untuk membakar minyak mentah daripada gas alam," kata Staunovo.

Padahal peningkatan demand atas minyak mentah ini tidak diiringi dengan adanya peningkatan suplai. Artinya harga minyak akan terus meningkat atau tetap berada di kisaran yang cukup tinggi karena kurangnya suplai atas minyak mentah yang tidak dapat memenuhi jumlah peningkatan permintaan.

Oleh karenanya, Staunovo memperkirakan bahwa minyak AS akan diperdagangkan sekitar US$ 77 atau sekitar Rp 1,1 juta per barel selama 12 bulan ke depan. Namun perlu diingat bahwa harga tersebut masih merupakan perkiraan.

Hanya saja, hingga saat ini, selain Staunovo terdapat beberapa perkiraan dari sejumlah analis maupun institusi tertentu terkait harga minyak mentah nantinya. Bahkan sejumlah analis atau instansi telah memperkirakan kalau harga minyak mentah ke depannya dapat lebih tinggi dari saat ini.

Citigroup misalnya, pada Senin (11/10) kemarin telah menaikkan prospek harga minyak Brent menjadi US$ 85 atau setara dengan Rp 1,21 juta per barel untuk kuartal keempat dan mengatakan minyak mentah kemungkinan akan mencapai US$ 90 atau sekitar Rp 1,28 juta pada waktu-waktu tertentu.

Selain itu Bank of America telah memperingatkan bahwa pada musim dingin ini harga minyak mentah Brent dapat meningkat jadi US$ 100 atau sekitar Rp 1,43 juta per barel untuk pertama kalinya sejak 2014.

Sumber:Detikfinance

IARFC Indonesia
Hubungi Kami