Deposito Bank Jumbo (BCA, BRI Cs) Loyo saat Simpanan Industri Melambat, Ada Apa?

July 10, 2025
IARFC Indonesia

Kondisi itu terjadi saat tren pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan semakin melambat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan DPK per Mei 2025 sebesar 4,29% secara tahunan (

Realisasi itu ditopang pertumbuhan komponen giro, tabungan, dan deposito yang masing-masing tumbuh sebesar 5,57%, 5,39%, dan 2,31% YoY.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut bahwa pertumbuhan deposito yang terbatas turut dipengaruhi jenis simpanan lain yang kian menarik dari sisi imbal hasil maupun fleksibilitas penarikan.

“Juga disebabkan makin beragamnya alternatif jenis instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi,” kata Dian dalam keterangan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK bulanan, Selasa (8/7/2025).

Di antara bank jumbo, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan kontraksi deposito paling dalam pada bulan kelima tahun ini. Komponen simpanan berjangka di BRI tercatat sebesar Rp498,09 triliun, turun 5,19% YoY dari sebelumnya Rp525,36 triliun.

Pada saat bersamaan, dana murah alias

Lebih lanjut, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan penurunan simpanan deposito sebesar 2,19% YoY, dari Rp198,99 triliun menjadi Rp194,63 triliun pada Mei tahun ini.

Sementara itu, dana murah bank swasta milik Grup Djarum ini tumbuh 7,29% YoY menjadi Rp960,58 triliun. BCA pun mempertahankan pertumbuhan DPK sebesar 5,57% YoY menjadi Rp1.155,22 triliun.

Segendang sepenarian, simpanan berjangka di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terkontraksi 1,48% YoY menjadi Rp225,96 triliun per Mei 2025, dari sebelumnya Rp229,35 triliun.

BNI juga mencatatkan pertumbuhan dana murah sebesar 2,5% YoY menjadi Rp573,06 triliun. Alhasil, DPK BNI masih bertumbuh positif 1,34% ke angka Rp799,02 triliun pada Mei 2025.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi satu-satunya bank jumbo yang membukukan lonjakan deposito per Mei 2025, yakni sebesar 20,28% YoY menjadi Rp314,5 triliun dari sebelumnya Rp261,46 triliun.

Dana murah bank berlogo pita emas ini juga bertumbuh 5,58% menjadi Rp1.092,33 triliun. DPK Bank Mandiri pun bertumbuh 8,54% YoY menjadi Rp1.406,84 triliun per Mei 2025.

Faktor Deposan Perorangan

Pengamat Perbankan Moch. Amin Nurdin menilai bahwa kondisi ini cenderung dipengaruhi faktor deposan perorangan. Menurutnya, kondisi makroekonomi yang lebih sulit membuat masyarakat terpaksa mencairkan simpanan depositonya untuk keperluan yang lebih genting.

“Kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat sedang melambat, sehingga kemudian orang mulai melakukan pencairan untuk membiayai berbagai macam keperluan. Artinya, ada pengeluaran ekstra,” katanya kepada

Menurutnya, skenario tersebut banyak terjadi pada kalangan nasabah menengah ke bawah. Pencairan deposito juga dapat dilakukan untuk menuntaskan tuntutan lain seperti utang maupun cicilan.

Selain itu, Amin juga membenarkan adanya peralihan aset masyarakat kepada instrumen investasi lain yang lebih menguntungkan dibandingkan deposito, salah satunya surat utang.

“Masyarakat beralih ke obligasi korporasi, obligasi pemerintah atau SUN, sukuk dan lain-lain yang lebih menguntungkan secara margin dan lebih aman [dibandingkan deposito],” lanjutnya.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi pada nyaris seluruh bank. Khusus Bank Mandiri, ekspansi simpanan deposito masih terjadi di tengah basis nasabah

Atas faktor-faktor tersebut, Amin memproyeksikan bahwa pertumbuhan DPK dan kredit perbankan belum akan membaik hingga penghujung tahun ini.

“Saya rasa ini pertumbuhan sampai akhir tahun tidak akan sampai double digit, baik untuk pertumbuhan kredit apalagi untuk DPK,” tandasnya.

Strategi Bank Jaring Simpanan

Dari sisi perbankan, BNI telah menyampaikan strateginya untuk memperkuat struktur pendanaan melalui akselerasi transformasi digital. Upaya ini mendorong efisiensi layanan sekaligus memperluas basis dana murah (

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan bahwa transformasi digital yang dijalankan tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga mengutamakan pengalaman nasabah yang lebih personal dan berkelanjutan.

“Transformasi digital kami tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga bagaimana menciptakan pengalaman nasabah yang lebih personal dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/6/2025).

Salah satunya yaitu melalui aplikasi perbankan wondr by BNI, yang mencatatkan lonjakan pengguna dan nilai transaksi. Per Maret 2025, jumlah pengguna digital banking BNI mencapai 24,4 juta, melonjak 53,8% secara tahunan (

“Kami terus mengembangkan fitur-fitur baru di wondr by BNI untuk memastikan pengguna memiliki alasan kuat untuk terus kembali,” tambah Okki.

Peningkatan signifikan ini turut mengerek dana tabungan BNI, yang tumbuh 10,2% secara tahunan. Hal ini ikut memperkuat struktur CASA dan menjaga biaya dana (

Di sisi lain BCA menyatakan keyakinan akan pertumbuhan solid DPK. Executive Vice President BCA Hera F. Haryn mengatakan BCA secara konsisten mengusung konsep

"Kami berharap pertumbuhan CASA dan DPK masih tetap solid ke depan, sejalan dengan volume transaksi yang terus bertumbuh," katanya kepada

Keyakinan tersebut tercermin pada tren peningkatan volume transaksi nasabah yang menunjukkan pertumbuhan. Menurut data BCA, hingga Maret 2025 total DPK secara konsolidasi tumbuh 6,5% secara tahunan, mencapai Rp1.193 triliun. CASA menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 8,3% (YoY) menjadi Rp979 triliun atau sekitar 82% dari total DPK.

“Dana CASA menjadi kontributor utama pendanaan BCA seiring dengan meningkatnya volume transaksi. Frekuensi transaksi BCA secara menyeluruh tumbuh 19% [YoY] menjadi 9,9 miliar,” ujar Hera.

Sumber : Bisnis.com

Hubungi Kami

Pesan alert di sini