Cerdas Finansial di Usia Muda: Cara Mengatur Uang agar Tidak Bergantung pada Utang

October 23, 2026
Enrick Vincent Marcello
Artikel ini ditulis oleh perencana keuangan, IARFC Indonesia tidak bertanggung jawab atas konten di dalam artikel.

 

Cerdas Finansial di Usia Muda: Cara Mengatur Uang agar Tidak Bergantung pada Utang 

 

Oleh: Enrick Vincent Marcello, CMM.

 


 

Utang secara finansial dapat didefinisikan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh seseorang kepada kreditur dengan kesepakatan yang telah dibuat. Berdasarkan pengalaman saya, biasanya orang berhutang diakibatkan karena tidak memiliki dana darurat yang memadai. Namun, pada kenyataannya banyak faktor yang terlibat dalam keputusan untuk berhutang. Khususnya bagi anak muda, hutang merupakan hal yang perlu dipahami lebih lanjut. Berdasarkan data dari GoodStats (2026), sebanyak 56% anak muda Indonesia memiliki tanggungan utang. 

Menurut saya, faktor utama orang berhutang dapat dijabarkan ke dalam tiga faktor, antara lain: gagal dalam memahami antara gaya hidup konsumtif dan kebutuhan darurat, faktor psikologi keuangan, dan kesalahan dalam memikirkan utang produktif dan investasi. 

Banyak orang gagal dalam memahami antara gaya hidup konsumtif dan kebutuhan darurat khususnya anak muda. Dapat diketahui gaya hidup konsumtif adalah kebiasaan seseorang dalam membeli barang-barang karena keinginan dan atau gengsi, bukan karena kebutuhan mendesak. Contoh gaya hidup konsumtif yaitu membeli barang-barang berdasarkan keinginan atau gengsi, dan lain lain. Kebutuhan darurat adalah suatu kondisi dimana seseorang harus mengeluarkan uang karena dapat mengancam keselamatan ataupun merugikan diri. Contoh kebutuhan darurat yaitu sakit dan butuh operasi medis secara cepat, mobil mogok saat akan digunakan untuk suatu acara penting, kebutuhan saat krisis moneter, dan rumah tiba-tiba butuh perbaikan atap karena hampir ambruk. Menurut peraih Hadiah Nobel Ekonomi, Richard Thaler, “Pelajaran dari bidang ilmu saya, ekonomi keperilakuan, adalah kita perlu memahami bagaimana cara kita berbeda dari manusia rasional yang diasumsikan dalam teori ekonomi standar.” 

Dari kutipan tersebut, membuktikan bahwa ada tindakan yang tidak rasional yang dilakukan manusia. Karena dilakukan tidak berdasarkan pemikiran yang logis melainkan berdasarkan perasaan atau keinginan. 

Berikutnya, faktor psikologi keuangan anak muda. Yang akan saya bahas terkait dengan FoMO. Berdasarkan Universitas Tarumanegara (2023), gambaran FoMO pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara didapatkan sebagian besar responden mengalami FoMO rendah (58,1%) dan sebagian kecil mengalami FoMO sedang dan tinggi. Berdasarkan usia, responden yang berusia 18 dan 19 tahun paling banyak mengalami FoMO sedang dan tinggi. Dari data tersebut menunjukkan bahwa anak muda cenderung terpengaruh secara psikologi keuangan. Faktor psikologis keuangan berkaitan dengan kondisi mental, emosi, dan keyakinan seseorang. 

Jika anak muda menuruti keinginannya sendiri dan tidak berpikir secara rasional dalam pengambilan keputusan keuangan. Maka dapat beresiko terhadap manajemen keuangannya. 

Faktor yang terakhir, kesalahan dalam memikirkan utang produktif dan investasi. Menurut saya pribadi, hal ini merupakan yang paling berbahaya dibandingkan dua faktor sebelumnya. Karena anak muda yang salah memahami tujuan berhutang dapat terjun bebas dalam lubang yang dalam. Berhutang dilakukan jika kebutuhan pokok tidak dapat dipenuhi. Jika seorang anak muda berhutang untuk dialihkan ke dalam investasi yang sifatnya agresif, hal ini dapat membahayakan kesehatan keuangan dan masa depannya. 

Menurut pengalaman saya, beberapa anak muda berhutang untuk digunakan dalam aktivitas investasi. Contohnya saham, cryptocurrency, dan lain sebagainya. Melansir dari definisi kamus keuangan Investopedia, leveraged investing adalah teknik berinvestasi menggunakan modal pinjaman dengan target mendapatkan keuntungan lebih besar daripada biaya bunga pinjaman itu sendiri. Menurut saya pribadi, keputusan keuangan dengan menggunakan utang sebagai modal investasi merupakan keputusan yang sangat beresiko.

Saya lebih menyarankan bagi anak muda untuk menata manajemen keuangan terlebih dahulu seperti dana darurat, alokasi dana untuk kebutuhan tertentu, alokasi dana kebutuhan harian, dan lain sebagainya, kemudian barulah menentukkan profil resiko dalam investasi, dan jika sudah mengambil keputusan keuangan lakukan investasi menggunakan dana yang tidak terpakai. Saran terakhir dari saya khususnya anak muda, kokohkan pilar-pilar finansial pribadimu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan keuangan lebih lanjut, kemudian hindari perasaan FoMO, karena dapat memengaruhi kestabilan cashflow. 

Kemudian bijaklah dalam berinvestasi, saya tidak menyarankan untuk menggunakan uang hasil berhutang untuk dialokasikan ke dalam investasi. Karena ada tiga tingkatan dalam kemampuan finansial antara lain, kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan, membangun keamanan dan ketahanan finansial, dan mengembangkan kekayaan melalui investasi. Jika memang benar-benar ingin berinvestasi di usia muda, kumpulkan pengalaman berinvestasi dengan profil resiko konservatif terlebih dahulu, instrumen investasi yang sesuai dengan profil resiko konservatif adalah reksadana pasar uang dan deposito bank. Karena sebagai anak muda harus menyesuaikan dengan kemampuan finansialnya.


 

 

 

Hubungi Kami

Pesan alert di sini