BI Akui Perang Ukraina
Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pola pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perubahan sebagai dampak dari ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina.
Dari sisi riil, BI sebelumnya memperkirakan kenaikan volume ekspor akan meningkat dengan cepat dan tinggi.
Namun, akibat ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi perdagangan global, disertai masih berlanjutnya gangguan mata rantai pasok global, kenaikan volume ekspor ke depan akan tertahan.
Kondisi ini sejalan dengan menurunnya permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia. Begitu pula dengan permintaan di dalam negeri yang diproyeksi akan tertahan.
“Di samping itu, ada gangguan mata rantai global, karena itu menyebabkan kenaikan permintaan domestik juga tertahan,” katanya dalam konferensi pers virtual, Selasa (19/4/2022).
Berdasarkan asesmen BI, output gap atau perbandingan antara sisi penawaran agregat dan permintaan agregat masih akan negatif dikarenakan kenaikan permintaan yang sedikit lebih rendah.
Dengan demikian, BI menilai dampaknya pada kenaikan inflasi, terutama inflasi inti pun masih rendah.
Adapun, dampak inflasi administered prices terhadap inflasi inti relatif akan lebih rendah dibandingkan karena kesenjangan output kita masih negatif.
BI optimistis, inflasi tahun ini tetap terkendali dalam sasaran 2 hingga 4 persen, sejalan dengan masih memadainya sisi penawaran dalam merespons kenaikan sisi permintaan.
Selain itu, ekspektasi inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah masih tetap terkendali, sejalan respons kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah.
Pada Rapat Dewan Gubernur 18 dan 19 April 2022, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5 persen.
Pada saat yang sama, BI merevisi angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini, dari sebelumnya 4,7-5,5 persen menjadi 4,5-5,3 persen.
Sumber : Bisnis.com