AAUI: Data Pertumbuhan Ekonomi Versi BPS Tak Dirasakan Industri Asuransi
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menjelaskan bahwa industri asuransi umum mencatatkan kenaikan premi 5,8% (
Ekuitas industri asuransi umum semester I/2025 mengalami penurunan 0,9% (YoY) menjadi Rp79,8 triliun. Namun, penurunan lebih dalam terjadi di industri reasuransi, yakni ekuitas semester I/2025 turun hingga 23,7% (YoY).
"Pertumbuhan ekonomi 5,12% yang diumumkan oleh BPS tidak merefleksikan [pertumbuhan] kinerja di industri
Menurutnya, angka 5,12% yang cukup tinggi semestinya turut membuat kinerja premi asuransi naik lebih besar. Masalahnya, beberapa sektor industri utama justru mengalami penurunan premi.
Sebut saja lini
Baca Juga
Memang, lini-lini tertentu mengalami kenaikan premi, seperti asuransi kredit yang preminya naik 5,0% menjadi Rp8,5 triliun. Namun, jumlah klaimnya pada semester I/2025 naik 5,4% senilai Rp6,9 triliun. Jumlah klaim yang dibayarkan hampir menyamai perolehan preminya.
"Bahwa pertumbuhan ekonomi yang diumumkan BPS 5,12% itu memang jelas, kalau 5,12% pertumbuhan itu terjadi secara masif, kami [industri asuransi umum] akan menikmati. Jadi, ini hanya terkelompok dari beberapa industri yang akhirnya men-generate angka 5,12%," ujar Budi.
Angka pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 sebesar 5,12% menuai sorotan karena berada di atas konsensus. Para ekonom memperkirakan ekonomi kuartal II/2025 hanya bisa tumbuh maksimal 4,8%, sehingga angka realisasi yang lebih tinggi menimbulkan kritik.
Saat dimintai tanggapan mengenai hal tersebut usai melaksanakan rapat kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/8/2025), Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut data-data yang dihimpun dan disajikan BPS mengenai perekonomian tiga bulan kedua tahun ini sudah mengikuti standar dunia.
"Kan ada standar internasional," ujar Amalia secara singkat kepada wartawan.
Amalia lalu menegaskan bahwa data-data pendukung yang digunakan untuk menentukan pertumbuhan PDB itu sudah dipastikan kualitas sumber dan metodologinya. Saat ditanya terkait dengan keraguan sejumlah ekonom atas data tersebut, Amalia menegaskan bahwa keseluruhan data sudah bagus.
"Data-data pendukungnya sudah oke. Udah semua. Pendukungnya sudah mantap, lah, itu," tegas perempuan yang juga mantan Deputi Kementerian PPN/Bappenas itu.
Ekonom Ragukan Data Ekonomi BPS
Direktur Ekonomi Digital pada Center of Economic and Law Studies (
"Pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 penuh kejanggalan dan tanda tanya publik. Saya tidak percaya dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya," ujar Nailul, Rabu (6/8/2025).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dengan momentum liburan seperti Ramadan dan Idulfitri. Dia menilai hal itu janggal.
Seperti diketahui, ekonomi kuartal I/2025 tumbuh 4,87% (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Hal ini dikarenakan tidak seperti tahun sebelumnya dimana pertumbuhan triwulanan paling tinggi merupakan triwulan dengan ada momen Ramadan-Lebaran. Triwulan I/2025 saja hanya tumbuh 4,87%, jadi cukup janggal ketika pertumbuhan triwulan II mencapai 5,12%," terangnya.
Di sisi lain, terangnya, tidak ada momen yang membuat peningkatan konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga melemah dari Maret 2025 sebesar 121,1 turun menjadi 117,8 (Juni 2025).
Kemudian, apabila dikaitkan dengan PMTB atau
Keempat, data pertumbuhan ekonomi dengan indikator utama yang tidak sinkron.
"Membuat saya pribadi tidak percaya terhadap data yang dirilis oleh BPS. BPS harusnya menjadi badan yang mengedepankan informasi data yang akurat tanpa ada intervensi pemerintah. BPS harus menjelaskan secara detail metodologi yang digunakan, termasuk indeks untuk menarik angka nilai tambah bruto sektoral dan juga pengeluaran," pungkasnya.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (
"Menimbulkan pertanyaan apakah ada metodologi yang harusnya diperbaiki atau disempurnakan, ataukah ada basis datanya, atau sebab-sebab lainnya yang membuat kita belum mengetahuinya secara pasti?" ujar Fadhil dalam diskusi tersebut, Rabu (6/8/2025).
Fadhil menjabarkan bahwa setidaknya terdapat 12 indikator utama perekonomian yang kurang sejalan dengan capaian tinggi ekonomi kuartal II/2025, mulai dari kinerja penjualan kendaraan bermotor, kinerja investasi, hingga maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Lemahnya penjualan mobil dan motor menurutnya mencerminkan konsumsi masyarakat kelas menengah-atas yang turun. Hal itu juga seolah mengafirmasi fenomena rojali, alias rombongan jarang beli yang belakangan menjadi perbincangan.
Lalu, Fadhil juga menyoroti kondisi Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur yang masih kontraksi. Pada Juni 2025 atau akhir kuartal II/2025, PMI Manufaktur ada di level 49,60 alias masih kontraksi karena di bawah 50.
Indikator lainnya adalah
Sumber : Bisnis.com