Ini Penentu Kapan Investor Kembali Lirik Negara Berkembang
Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Ekonom Citibank Helmi Arman mengungkap sejumlah faktor global yang akan menentukan keluar masuknya arus investasi asing ke pasar keuangan negara-negara berkembang, di antaranya Indonesia.
Pada taklimat media, Kamis (10/2/2022), Helmi menyebut arus dana investasi asing ke pasar keuangan domestik, terutama pasar obligasi, relatif lemah. Hal ini sudah berlangsung selama sekitar dua tahun terjadinya pandemi Covid-19.
Helmi menyebut tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS), perekonomian China, dan outlook inflasi negara-negara berkembang akan menjadi faktor yang cukup dominan dalam menentukan keluar masuk aliran investasi asing.
"Perkiraan kami kalau memang nanti inflasi di Amerika sudah kelihatan puncaknya, dan juga sektor properti di Tiongkok sudah mulai stabil, arus dana global akan mulai kembali melirik negara-negara berkembang. Namun, kami perkirakan itu akan bertahap," jelas Helmi secara virtual, Kamis (10/2/2022).
Pertama, investor dinilai akan sangat memerhatikan tingkat inflasi AS. Hal ini karena perkembangan inflasi di AS akan menentukan kecepatan bank sentral, yakni Federal Reserve (Fed), dalam menarik kembali kucuran likuditas dan menaikkan suku bunga acuannya.
"Citibank saat ini memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya sebanyak lima kali 25 basis poin," jelasnya.
Kedua, krisis sektor properti China yang memperlambat pertumbuhan ekonomi. Saat ini, sektor yang memiliki multiplier effect yang besar terhadap sektor-sektor lain di negara tersebut, tengah mengalami penurunan yang signifikan.
Tahun ini, Helmi mengatakan bahwa perekonomian China diprakirakan tumbuh lebih rendah dari 2021 yakni di bawah 5 persen. Pada akhirnya, lemahnya pertumbuhan ekonomi China bisa memengaruhi kebijakan nilai tukar valas bank sentral negara tersebut.
"Karena China merupakan pusat industri dunia, maka pergerakan nilai tukar Yuan ini dianggap sebagai jangkar bagi pergerakan nilai tukar negara-negara berkembang lainnya," jelas Helmi.
Terakhir, siklus inflasi negara-negara berkembang. Tingkat inflasi negara-negara berkembang dinilai akan menjadi faktor penentu bagi pergerakan harga aset, khususnya obligasi, di pasar masing-masing negara. Hal ini nantinya akan menentukan juga keluar masuknya arus dana investasi global.
Sumber : Bisnis.com