Harga Emas Diramal Terus Naik, Kapan Waktu Tepat Buat Beli?
Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku Melvin Mumpuni menilai investor memang harus putar otak lebih keras dalam memilah strategi investasi yang tepat di masa ketidakpastian.
Terpenting, sesuaikan strategi itu dengan tujuan investasi, profil risiko, dan horizon waktu untuk mencapai tujuan tersebut.
"Misalnya, untuk jangka pendek kurang dari setahun, pilih instrumen likuid seperti deposito, reksa dana pasar uang, emas, dan emas fisik digital. Tapi untuk jangka menengah-panjang, tak ada salahnya meracik beberapa saham, reksa dana, dan emas sebagai diversifikasi," jelasnya kepada
Menurut Melvin, saat ini emas masih perlu menjadi pegangan wajib investor untuk mencapai tujuan jangka pendek maupun panjang. Sebab, emas diramal masih dalam tren reli kenaikan harga cukup tinggi, setidaknya sampai akhir tahun nanti.
Contohnya Goldman Sachs telah memberikan beberapa skenario.
Baca Juga
Ada lagi
"Skenario
Sementara itu, JP Morgan juga optimistis tetapi lebih moderat, di mana prakiraan harga emas bisa menyentuh sekitar US$3.675 per ounce pada kuartal IV/2025 menuju US$4.000 pertengahan 2026.
Seandainya suku bunga The Fed turun, atau ada perubahan geopolitik seperti perang baru, bahkan kemungkinan besar harga emas akan meningkat lebih kuat.
Hal ini pernah terjadi pada Krisis 2008, yakni adanya penurunan bunga drastis, sehingga emas melonjak dari sekitar US$800 ke US$1.900 pada 2011. Pada saat pandemi sekitar 2020 pun keputusan The Fed kembali memangkas bunga membuat emas tembus rekor di atas US$2.000.
"Menurut analisis saya menggunakan analisis teknikal, saya melihat dalam jangka pendek ini, sampai akhir tahun, bisa ke US$3.650—US$3.700. Angka tersebut bisa tembus jika ada beberapa perubahan ekonomi yang signifikan, misalnya terjadi penurunan suku bunga The Fed," ungkapnya.
Lantas, setelah memegang emas dalam porsi sesuai kebutuhan, lakukan alokasi aset ke sebagian saham untuk
Melvin melihat saat ini sebenarnya momentum bagus untuk membeli saham-saham perusahaan Indonesia yang secara valuasi masih
Terakhir, jaga likuiditas dan dana darurat tetap dalam kondisi baik, sehingga ketika terjadi
"Campurkan antara saham, termasuk yang
Sumber : Bisnis.com