Besok, Bank Indonesia (BI) Perdana Terbitkan BI-FRN
Kepala Grup Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Fitra Jusdiman menjelaskan penerbitan BI-FRN sebagai langkah bank sentral mengembangkan
Penerbitan tahap awal hanya akan ditawarkan kepada 20 dealer utama (DU) yang kemudian dapat memperdagangkannya di pasar sekunder.
Adapun, suku bunga mengambang BI-FRN akan dihitung pada saat jatuh tempo. Dengan karakter imbal hasil seperti itu, muncul risiko fluktuasi suku bunga.
"Karena ada risiko fluktuasi suku bunga, maka perlu ada instrumen hedging [lindung nilai] yaitu berupa OIS sehingga nanti kita harapkan, dengan adanya
Sementara itu, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Agustina Dharmayanti menambahkan bahwa langkah penerbitan BI-FRN ini menjadi bagian dari reformasi suku bunga acuan domestik menuju sistem berbasis transaksi (
Baca Juga
Mulai 2026—2027, suku bunga acuan Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) yang berlaku saat ini akan digantikan oleh Compounded INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) sebagai
Agustina menjelaskan bahwa pasar uang dan pasar valas telah tumbuh signifikan sejak implementasi Operation Market Rate-Oriented (OMRO) pada Mei 2024. Hingga tahun ini, rata-rata harian transaksi mencapai Rp54,4 triliun di pasar uang dan US$10 miliar di pasar valas.
Pertumbuhan ini, katanya, turut didorong oleh meningkatnya aliran modal masuk melalui penerbitan SRBI serta efisiensi harga pada instrumen lindung nilai
“Ini kita
Melalui OIS, pelaku pasar dapat menukar pendapatan berbasis suku bunga tetap dengan suku bunga mengambang berbasis INDONIA. Mekanisme ini memungkinkan bank atau korporasi untuk melindungi eksposur mereka terhadap fluktuasi suku bunga ke depan.
Untuk mempercepat pengembangan pasar OIS, BI menyiapkan dua pendorong utama, yaitu penerbitan BI-FRN sebagai instrumen berimbal hasil mengambang dan pembentukan mekanisme
Agustina menjelaskan bahwa BI akan menunjuk DU untuk mempertemukan tawaran beli (
"Ini [pengumuman hasil transaksi] untuk mendorong
BI pun meyakini dengan pengembangan OIS, kredibilitas kebijakan moneter bisa terbentuk karena bisa menjadi acuan referensi dalam menentukan harga. Menurutnya, selama ini masing-masing bank membuat referensi harga yang berbeda sehingga tidak acuan baku bagi pelaku pasar.
“Misalkan seperti KPR, KPR itu biasanya tiga bulan OIS-nya, tinggal berapa nanti marginnya. Nah OIS-nya sudah ada nanti, di-
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede meyakini upaya pengembangan instrumen OIS dengan penerbitan BI-FRN akan mendapat dukungan dari pelaku pasar. Menurutnya, BI-FRN akan menjadi katalis penting dalam reformasi acuan suku bunga domestik.
Langkah itu diyakini memperkuat peralihan dari Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) yang berbasis kuotasi menuju Indonesia Overnight Index Average (INDONIA) yang berbasis transaksi aktual. Pada akhirnya, akan terbentuk kurva suku bunga lewat pasar OIS.
Dia menjelaskan BI-FRN dirancang menyerupai surat berharga jangka pendek dengan kupon mengambang berbasis Compounded INDONIA, tenor fleksibel 1–12 bulan, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder maupun direpokan. Kepemilikannya juga terbuka bagi nonbank melalui
“Fitur-fitur ini mengurangi friksi pembentukan harga dan memberi utilitas nyata bagi
Lebih lanjut, dia menjelaskan penerbitan BI-FRN akan beriringan dengan mekanisme
Meski demikian, Josua melihat peningkatan aktivitas tidak akan terjadi secara instan. Saat ini, rata-rata harian transaksi gabungan
“Ekosistemnya masih dangkal dan koneksi antar-pelaku terbatas. Inilah yang hendak dipecahkan oleh desain BI-FRN dan
Tak hanya itu, Josua memaparkan bahwa OIS akan memainkan peran strategis dalam memperkuat transmisi kebijakan moneter BI. Tanpa pasar OIS yang likuid, pembentukan harga untuk tenor 1–12 bulan rawan ditentukan oleh kuotasi tipis sehingga mengganggu efisiensi penetapan suku bunga kredit dan instrumen lindung nilai.
Dengan berkembangnya OIS, bank dan korporasi dapat menggunakan acuan berbasis INDONIA untuk kontrak bunga mengambang, penetapan harga kredit, dan lindung nilai risiko suku bunga.
BI juga menetapkan pembentukan
“Dengan OIS yang hidup, bank dan korporasi memperoleh referensi yang lebih andal untuk kontrak bunga mengambang, penetapan harga kredit berbunga mengambang, dan lindung nilai risiko suku bunga,” jelasnya.
Lewat pengembangan OIS, BI ingin meningkatkan porsi aset dengan suku bunga mengambang (
Menurut Josua, peningkatan porsi aset berbunga mengambang akan memberikan keuntungan bagi seluruh pelaku pasar. Bagi perbankan, semakin banyak aset dan liabilitas yang bergerak mengikuti INDONIA akan menekan risiko suku bunga dan memperbaiki pengelolaan likuiditas.
Bagi investor nonbank, BI-FRN menjadi alternatif penempatan dana yang tetap aman dari risiko harga ketika suku bunga bergerak naik. Sementara bagi pembentuk harga, semakin besar porsi instrumen berbasis INDONIA, semakin kuat pula sinyal suku bunga antar-tenor karena seluruh pelaku mengacu pada basis yang sama.
“Skemanya sederhana, ketika BI mengubah suku bunga kebijakan, INDONIA sebagai suku bunga
Dia menilai mekanisme ini memperpendek rantai transmisi kebijakan moneter ke sektor riil, karena penyesuaian suku bunga dana dan kredit terjadi lebih cepat dibandingkan mekanisme administratif.
Selain itu, BI tengah menyiapkan perluasan
Dalam jangka panjang, ketika ekosistem pasar keuangan semakin dalam, Josua pun meyakini sinyal kebijakan BI akan lebih cepat tercermin ke suku bunga perbankan dan pembiayaan korporasi.
Sumber : Bisnis.com