Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci: Revitalisasi Wisata Berbasis Masyarakat untuk Ekonomi Lokal Berkelanjutan

May 02, 2026
Zenal Muttaqin
Artikel ini ditulis oleh perencana keuangan, IARFC Indonesia tidak bertanggung jawab atas konten di dalam artikel.

Revitalisasi kawasan cagar budaya melalui pariwisata berbasis masyarakat menjadi salah satu strategi efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Salah satu contoh menarik hadir di kawasan Gunung Kunci, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, melalui pembentukan Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci. Program ini menggabungkan pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, dan inovasi digital dalam satu ekosistem ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Potensi Besar yang Lama Terabaikan

Gunung Kunci merupakan bagian dari warisan sejarah Keraton Kartasura, peninggalan Kesultanan Mataram Islam. Kawasan ini memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi, namun selama bertahun-tahun belum dikelola secara optimal sebagai destinasi wisata produktif.

Masyarakat sekitar, khususnya pelaku UMKM, selama ini hanya mengandalkan kegiatan insidental seperti car free day untuk berdagang. Akibatnya, pendapatan tidak stabil, promosi terbatas, dan potensi ekonomi kawasan belum berkembang maksimal.

Hadirnya Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci

Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta menggagas program pemberdayaan masyarakat dengan membentuk Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci.

Pasar ini dirancang sebagai pasar budaya bernuansa tempo dulu yang menghadirkan suasana Jawa tradisional. Selain menjadi tempat transaksi ekonomi, pasar ini juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas masyarakat.

Konsep Berbasis Partisipasi Masyarakat

Program ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Community-Based Tourism (CBT), yaitu model pengembangan wisata yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Warga, pelaku UMKM, tokoh budaya, akademisi, pemerintah daerah, hingga pemuda setempat dilibatkan dalam tiga tahapan utama:

  • Perencanaan bersama
  • Pelaksanaan program
  • Evaluasi dan pengembangan lanjutan

Dampak Positif bagi Ekonomi dan Budaya

Pelaksanaan perdana pasar ini berlangsung pada 19 Oktober 2025 dan berhasil menarik ribuan pengunjung dari berbagai wilayah sekitar.

Beberapa hasil positif yang dicapai antara lain:

  • Pendapatan UMKM meningkat
  • Kolaborasi antarwarga semakin kuat
  • Identitas budaya lokal semakin dikenal
  • Kesadaran lingkungan meningkat
  • Kawasan terbengkalai berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan wisata

Ragam Produk Tradisional Jadi Daya Tarik

Pasar ini menawarkan beragam kuliner khas Jawa seperti:

  • Sego liwet
  • Cabuk rambak
  • Jadah bakar
  • Klepon
  • Putu
  • Dawet
  • Wedang ronde
  • Jamu tradisional

Selain itu, tersedia pula kerajinan, peralatan tradisional, dan pertunjukan budaya yang memperkuat pengalaman wisata pengunjung.

Nilai Lokal dan Ekonomi Syariah

Program ini juga mengusung filosofi Jawa “urip iku urup” yang berarti hidup sebaiknya memberi manfaat bagi sesama. Nilai ini sejalan dengan prinsip ekonomi Islam seperti:

  • Ukhuwah (persaudaraan)
  • Maslahah (kemanfaatan bersama)
  • Keberkahan usaha
  • Keadilan ekonomi

Model yang Bisa Ditiru Daerah Lain

Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga mampu menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat.

Dengan pengelolaan profesional, promosi digital, dan dukungan semua pihak, model seperti ini sangat potensial direplikasi di berbagai daerah Indonesia yang memiliki kekayaan budaya serupa.

Penutup

Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci bukan sekadar pasar tradisional, melainkan simbol kebangkitan ekonomi lokal berbasis budaya dan gotong royong. Ini membuktikan bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk berkembang, warisan masa lalu bisa menjadi kekuatan masa depan.

Penulis: Bapak M. Rofiq Junaidi, CIMM

Hubungi Kami

Pesan alert di sini